CFD Jadi Panggung Demokrasi: Bawaslu Bali dan Bawaslu Buleleng Gaungkan Pengawasan Partisipatif
|
Singaraja, Bawaslu Buleleng – Hiruk pikuk Car Free Day (CFD) di Kawasan Taman Kota Buleleng pada Minggu (28/9) berubah menjadi ruang edukasi demokrasi. Di tengah derap langkah senam bersama dan wajah-wajah ceria warga yang menikmati udara pagi, Bawaslu Bali bersama Bawaslu Buleleng menyerukan pentingnya pengawasan partisipatif Pemilu. Momen sederhana itu menjadi simbol bahwa demokrasi bisa disemai di mana saja, bahkan di jalanan yang biasanya hanya dipenuhi rutinitas olahraga.
Ketua Bawaslu Buleleng, I Kadek Carna Wirata didampingi Anggotanya Gede Ganesha dan I Ketut Adi Setiawan, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah ikhtiar lembaga Pengawas Pemilu untuk lebih dekat dengan masyarakat. “Kami ingin menghadirkan pesan pengawasan pemilu dalam ruang publik yang santai, sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa peran mereka sangatlah penting,” ujarnya. Menurutnya, CFD dipilih bukan sekadar arena berkumpul, melainkan panggung terbuka untuk menyapa publik dengan cara yang lebih membumi.
Ditambahkan olehnya, cara-cara sederhana namun kreatif ini diyakini mampu menanamkan kesadaran bahwa mengawal pemilu bukan hanya tugas penyelenggara, melainkan tanggung jawab bersama seluruh warga.
Sementara itu, Anggota Bawaslu Bali, Ketut Ariyani yang turut hadir, mengingatkan bahwa pengawasan partisipatif adalah roh demokrasi yang menjaga hak rakyat tetap murni. Ia menekankan bahwa pemilu bukan hanya soal mencoblos, tetapi juga memastikan tidak ada daftar pemilih ganda, tidak ada politik uang, dan tidak ada intimidasi yang mencederai suara rakyat. “Bila ada kecurangan, laporkan. Bila ada penyalahgunaan, bersuara! Sebab diam kita adalah ruang bagi lahirnya ketidakadilan,” tegasnya.
Ariyani menambahkan, demokrasi yang bersih bukanlah hadiah, melainkan buah dari keberanian rakyat mengawal setiap proses. Dari jalanan CFD, seruan itu menggema: bahwa setiap warga, sekecil apa pun perannya, adalah benteng yang menjaga keadilan pemilu.
Dengan menyentuh masyarakat di ruang publik terbuka, Bawaslu Buleleng berharap benih kesadaran ini tumbuh subur. Bahwa di balik langkah ringan dan tarikan napas pagi, tersimpan tekad bersama: menjadikan pemilu bukan sekadar pesta lima tahunan, melainkan cermin sejati dari kehendak rakyat.
Humas Bawaslu Buleleng