Dari Anyaman Bambu, Tersirat Makna Demokrasi Dari Warga Tigawasa
|
Singaraja, Bawaslu Buleleng - Demokrasi seperti halnya anyaman bambu, tak lahir dari satu bilah tunggal. Ia kokoh karena dirangkai bersama oleh kesadaran, partisipasi, dan suara hati rakyat. Di Desa Tigawasa, Kecamatan Banjar, Buleleng, makna itu terasa begitu nyata saat Bawaslu Bali bersama Bawaslu Buleleng hadir menyapa para pengrajin bambu dan warga setempat pada Senin (2/6). Anggota Bawaslu Bali, Ketut Ariyani didampingi Anggota Bawaslu Buleleng Gede Ganesha beserta rombongan, turun langsung menyapa masyarakat. Ia mendengarkan, berdialog, dan menyerap semangat warga yang telah menjadi bagian dari perjalanan demokrasi di Buleleng.
Salah satu suara yang mencuri perhatian datang dari Putu Indrayana, atau yang akrab disapa "Bimbo". Ia adalah seorang warga Tigawasa yang dengan bangga menyampaikan betapa dirinya merasa terlibat secara langsung dalam menyukseskan pesta demokrasi lima tahunan ini. "Sebagai masyarakat, kita memiliki tanggung jawab bersama untuk ikut menyukseskan pemilu. Ini adalah bentuk partisipasi aktif kita dalam menentukan arah pembangunan ke depan," ujar Bimbo.
Bimbo juga memberikan apresiasi terhadap kinerja penyelenggara. “Dari sisi pelaksanaan, saya merasakan langsung bahwa proses Pilkada berjalan dengan sangat maksimal. Semua profesional, tertib, dan lancar tanpa kekurangan berarti,” imbuhnya. Tak hanya Bimbo, para ibu rumah tangga pun turut merasakan kebanggaan tersendiri. Salah satu ibu mengaku bangga bisa ikut berkontribusi dalam Pilkada dengan menyalurkan hak suaranya. "Sebagai masyarakat saya bangga ikut serta terlibat dalam Pilkada ini untuk menyalurkan hak pilih saya," ujarnya.
Partisipasi seperti ini menjadi bukti bahwa masyarakat semakin sadar akan pentingnya demokrasi dan peran serta mereka dalam menentukan masa depan daerah. Dengan keterlibatan aktif masyarakat, diharapkan Pilkada tidak hanya menjadi ajang politik, tetapi juga momentum persatuan, tanggung jawab kolektif, dan kemajuan bersama.
Humas Bawaslu Buleleng