Lompat ke isi utama

Berita

Ganesha: Mahasiswa Harus Jadi Garda Depan Pengawasan Partisipatif Pemilu

Foto Humas Bawaslu Buleleng

Anggota Bawaslu Buleleng Gede Ganesha saat menjadi narasumber dalam Kuliah Praktisi yang diselenggarakan secara daring oleh Undiksha

Singaraja, Bawaslu Buleleng – Anggota Bawaslu Buleleng, Gede Ganesha, mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk aktif terlibat dalam pengawasan Pemilu melalui pengawasan partisipatif. Ajakan ini disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Kuliah Praktisi bertema “Tindak Pidana Pemilu dan Peran Pemuda dalam Pengawasan Pemilu” yang diselenggarakan secara daring oleh Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), pada Selasa (18/6).

 

Menurut pandangannya, pengawasan Pemilu tidak cukup hanya dilakukan oleh lembaga formal seperti Bawaslu. Partisipasi masyarakat, terutama kalangan muda, sangat dibutuhkan untuk memastikan proses Pemilu berlangsung secara jujur, adil, dan demokratis. 

 

“Pemuda harus berani tolak politik uang, jadi pemilih yang cerdas, dan ikut awasi proses Pemilu. Ini bagian dari tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.

 

Ia menjelaskan bahwa konsep pengawasan partisipatif memberi ruang bagi publik untuk menjadi bagian dari sistem kontrol sosial dalam pelaksanaan Pemilu. Mahasiswa sebagai kelompok terdidik dan kritis dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi mata dan telinga demokrasi.

 

Lebih lanjut, Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat dan Humas membeberkan fakta di lapangan. “Di Pemilu 2024, Bawaslu Buleleng mencatat ribuan pelanggaran pemasangan alat peraga kampanye, terdapat pemungutan suara ulang (PSU) di 4 TPS wilayah kecamatan Banjar, serta sejumlah laporan dugaan pelanggaran netralitas aparatur negara.

 

“Temuan ini menunjukkan bahwa kita masih butuh pengawasan yang lebih kuat dan melekat. Mahasiswa punya peran strategis untuk membantu mencegah dan melaporkan pelanggaran,” jelasnya.

 

Ganesha juga menegaskan bahwa peran pemuda tidak berhenti saat hari pencoblosan. Pasca Pemilu, generasi muda tetap dibutuhkan untuk mengawal hasil, mengontrol kinerja pemimpin terpilih, serta menyuarakan edukasi politik di ruang-ruang publik.

“Demokrasi yang sehat tidak lahir begitu saja, tapi harus dijaga bersama. Peran anak muda sangat vital dalam menjaga integritas Pemilu sejak awal hingga akhir,” tambahnya.

 

Kegiatan kuliah praktisi ini menjadi bagian dari komitmen Bawaslu untuk mendorong kolaborasi antara dunia pendidikan dan penyelenggara Pemilu dalam meningkatkan kesadaran serta partisipasi aktif mahasiswa dalam demokrasi elektoral.

Humas Bawaslu Buleleng